Bangunkan Rumah Nenek Tak Mampu, Oknum Polisi di Konawe Rela Kurangi ‘Jatah’ Istri

Ketgam : Rumah Nenek Epong yang telah direhab oleh Oknum Polisi di Konawe

SUARASULTRA.COM, KONAWE –  Sesama mahluk ciptaan Tuhan, tentu rasa sedih dan pilu juga turut dirasakan oleh semua insan. Perasaan itu salah satunya telah dirasakan oleh seorang anggota Polisi yang bertugas di Polres Konawe.

 

Rasa prihatin terhadap sesama itu muncul di kala ia mendengar adanya laporan dari masyarakat bahwa ada seorang nenek yang serba kekurangan di Kelurahan Puosu tepatnya di Jalan Kuliasa, Kelurahan Puosu, Kecamatan Tonggauna, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.

 

Bukan hanya sekedar berempati, tetapi polisi ini disebut telah menyisihkan sebagian gajinya untuk memberikan sesuatu yang sangat berharga kepada nenek tersebut yang belakangan diketahui bernama Mak Epong. Bantuan tersebut berupa rehab rumah tinggal nenek itu.

 

Mendengar kisah ini, awak mediapun mencoba menelusuri siapa oknum polisi yang bertugas di Mapolres Konawe yang rela menyisihkan gaji dan remunerasinya buat membantu nenek 70 tahun itu. Sumber informasi awal, awak media menemui Ketua RT setempat, Sardin Tulo.

 

Selaku ketua RT, Sardin Tulo membenarkan bahwa ada seorang nenek bernama Mak Epong atau yang biasa di sapa nenek Epong dibangunkan rumah oleh seorang oknum polisi.

 

Nenek Epong ini tinggal dengan seorang anaknya bernama Kin yang sampai saat ini menderita sakit pada kemaluan dan tak kunjung sembuh. Kim  tidak bisa bekerja untuk mencari nafkah sehingga Epong bersama anaknya hanya bisa bertahan hidup mengharapkan belas kasih dari tetangganya.

 

Lanjut Sardin Tulo menuturkan, sebelumnya nenek Epong adalah transmigrasi dari Jawa pada tahun 1977 dab saat itu pertama ditempatkan di Moramo. Pada tahun 1982 suami Mak Epong meninggal dunia dan dikuburkan di Moramo.

 

Diketahui, dari hasil perkawinannya tersebut, Mak Epong dikarunia 3 orang anak, 2 laki-laki dan satu perempuan. Kehidupan sehari hari merekapun sangat sulit, bayangkan seorang ibu menjadi tulang punggung keluarga dan harus banting tulang bekerja sebagai buruh kasar cetak batu merah di Ranomeeto.

 

Dan pada akhirnya Mak Epong membawa ketiga anaknya untuk berkebun di Kabupaten Konawe, tepatnya di kebun Pak Saenal desa Ambepulu kecamatan Tongauna.

 

Saat ini mereka hidup serba kekurangan dan anak ketiga yang laki-laki diasuh oleh H. Pattah dan informasi sekarang sudah berkerja sebagai pegawai honorer pengairan di Sengkang Kabupaten Wajo. Sedangkan anak perempuan sudah menikah dan ikut suaminya ke Kalimantan sebagai buruh kelapa sawit.

 

Sampai saat ini, kedua anaknya yang di perantauan pun belum bisa berikan kehidupan layak buat orang tua atau ibu kandung mereka. Karena kedua anak tersebut juga belum memiliki penghasilan yang cukup.

 

Sehari – harinya Epong bersama anaknya Kim yang punya penyakit menahun hidup dengan bergantung dari belas kasih tetangganya.

 

Usai mendapat informasi dari RT setempat, awak media pun kembali melakukan penelusuran untuk mencari tau siapa sebenarnya oknum polisi yang berbaik hati itu.

 

Setelah mengetahui jati diri polisi tersebut, awak media kemudian mengorek informasi dari oknum polisi tersebut. Polisi ini pun bercerita jika niatnya itu tulus membantu nenek Epong yang hanya tinggal berdua dengan anaknya.

 

Polisi ini menuturkan, awal bulan September 2018, ia kebetulan bertamu di salah satu tetangga Mak Epong. Dari situlah dirinya mendapat informasi bahwa ada seorang nenek bersama anaknya  membutuhkan uluran tangan untuk  menyambung hidup sehari-hari.

 

“Dalam hati, saya pun berniat untuk bertemu dengan Mak Epong dan menyambangi di rumahnya,” katanya.

 

Keesokan harinya Polisi ini mengaku langsung menyambangi rumah nenek Epong untuk memastikan informasi dari tetangga. Setibanya di rumah itu, dirinya memperhatikan keadaan dan kondisi Mak Epong.

 

“Saya pun bergegas ke dapur dan melihat apa yang dimakan oleh Mak Epong dan anaknya, ternyata mereka hanya makan sayur nangka yang sudah direbus air tanpa nasi,” kenangnya.

 

Tidak sampai disitu saja, Polisi ini pun mengaku jika keesokan harinya dirinya masih berkunjung lagi dan langsung menuju ke dapur dan melihat di dalam belanga ternyata masih ada sayur nangka sisa kemarin. Saat itulah ia langsung bertanya kepada Mak Epong.

 

“Mak, makan apa? Mak Epong menyahut makan nasi dengan sayur nangka. saya kemudian balik bertanya mana nasinya? Dijawab Mak Epong sudah habis,” kata polisi itu menirukan hasil perbincangannya dengan Mak Epong.

 

Ia kembali merenung, kemungkinan saja jawaban Mak Epong hanya  menutupi kekurangannya. Ia pun beranikan diri untuk memeriksa se- isi rumah dan tidak menemukan apa-apa selain sayur nangka yg sudah direbus dengan air.

 

“Saya pun duduk membisu diam tidak bisa berkata apa apa tanpa sadar air mataku menetes dan menangis membayangkan bagaimana “JIKA ” hal ini yang terjadi pada kedua orang tuaku, bagiamana kalau terjadi padaku sendiri,” ungkapnya sembari meneteskan air matanya saat menceritakan pengalamannya di hadapan awak media.

 

“Ya Allah maafkan hamba Mu yang terlambat mengetahui hal ini sambil menetes air mata,” curhatnya lagi.

 

Polisi ini pun kembali melanjutkan ceritanya, saat itu juga dirinya pun bergegas keluar mencari toko untuk membeli beras, Indomie, dan juga telur serta gula. Kemudian balik menuju rumah Mak Epong dan menyerahkannya dan juga memberikan sedikit uang untuk belanja ikan atau pun lauk yang lain serta membayar listrik.

 

“Hari demi hari berlalu saya sering berkunjung ke rumah Mak Epong membawakan sembako serta memastikan keadaan Ma Epong dan kesehatannya, dan alangkah tersipunya saya pada saat itu saya baru sadar ternyata rumah yang di tempati Epong sudah tidak layak huni, atap dari daun dan sudah bocor-bocor, tempat tidur yang sudah tidak layak atau penuh dengan kutu busuk. Bahkan ada sedikit bau yang menyengat dan sangat terasa, saya pun bertanya.. MA.. kalau hujan berlindung kemana ? Dengan nada rendah nenek Epong menjawab tetap di rumah sambil menutupi lubang -lubang atap yang bocor dengan daun seadanya, bahkan berpinda ke sisi lain untuk menghindari hujan,” paparnya.

 

Tak dapat dibayangkan jika hujan malam hari sampai pagi, apakah Mak Epong dan anaknya bisa tidur nyenyak? Tentu tidak karena pasti berusaha untuk menutup setiap atap lobang yang bocor.

 

Lubang atap yang bocor itu membuat dirinya kembali meneteskan air mata mengingat ke dua orang tuanya yang telah tiada. Sembari ia membayangkan bagimana jika hal ini terjadi pada kedua orang tuannya. Dirinya hanya bisa memanjatkan doa.

 

“Ya Allah, berikanlah rezki kepada hamba Mu ini agar bisa membantu meringankan beban Mak Epong,” harapnya.

 

Hari berlalu ia berinisiatif dengan niat yang tulus berkeinginan untuk merehab rumah Mak Epong. Dana yang ia kumpulkan setiap ia menerima dana Perwabku dengan diam diam tanpa sepengetahuan istri ia ke toko Rasyanti di Kelurahan Tumpas untuk DO Seng. Bahkan uang arisan istrinya diam diam ia ambil buat tambahan DO seng. Suatu hari ia pernah ditanya oleh istrinya sekali namun ia berkelita.

 

“Ah kamu malas pergi arisan, saya tidak berani tanyakan apa lagi minta. Padahal bukan karena malas tetapi sibuk mengajar dan mengurus anak saya yang masih bayi,” tuturnya.

 

Hari berlalu, dirinya pun pelan-pelan mengambil uang remunerasi, ia selalu cicil sedikit demi sedikit dengan alasan beli bensin dan lain-lain. Istri pun tidak pernah protes bahkan ia sering pinjam uang di bendahara intel, Ibu Fitra dengan alasan ada kebutuhan mendadak.

 

“Kemudian puncaknya waktu meninggal ayahku saya mendapat bantuan uang duka dari rekan saya seangkatan sebesar Rp.3 juta. Semua dana yang terkumpul kurang lebih hampir Rp.10 juta dan saya pun membeli kayu bahan-bahan rangka rumah paku dan lain-lain. Bahkan dari uang tersebut masih kurang, saya ambil lagi uang tabungan untuk beli tripleks termasuk ongkos tukang yang kebetulan anak angkat dar Mak Epong. Sehingga saya menyewa tukang dengan harga yg sangat sangat terjangkau,” akunya.

 

Keseharian dalam membangun rumah Ma Epong, ia bahkan tiap hari di sela- sela kesibukan menyempatkan diri untuk mengontrol melihat apa-apa saja yang kurang untuk dipenuhi bahkan setiap hari ketika ia mengontrol pekerjaan rumah Mak Epong, ia selalu sedih campur haru dan selalu berucap syukur kepada Allah SWT.

 

“Alhamdulillah, terima kasih atas nikmat Mu ya Allah,” ucapnya.

 

Pesan singkatnya, ia mohon maaf bukan bermaksud menonjolkan diri tapi dengan ini ia berharap kepada semua orang yang memiliki rezeki lebih agar selalu bersedekah dan melihat sekelilingnya.

 

“Jangan sampai ada saudara-saudara kita yang makan saja  serba kekurangan dan tidur pun tidak bisa lelap pada saat hujan tiba. Wassalamu Alaikum Wr.Wb,” tutup pria yang enggan disebutkan namanya itu.

 

Laporan : Redaksi
Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive

About redaksi

x

Check Also

Gubernur Sultra Lepas Ekspor Perdana Komoditas Biji Pinang

SUARASULTRA.COM | KENDARI – Penjabat Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) Irjen Pol (Purn) Andap Budhi Revianto ...