Basarnas Gelar Siaga SAR Khusus Nataru 2025–2026, Antisipasi Lonjakan Mobilitas dan Potensi Bencana

  • Share
Keterangan Gambar: Personel KPP/Basarnas Kendari saat melakukan pemantauan di Pelabuhan Penyeberangan Kendari jelang Nataru 2025–2026.

Make Image responsive
Make Image responsive

Basarnas Gelar Siaga SAR Khusus Nataru 2025–2026, Antisipasi Lonjakan Mobilitas dan Potensi Bencana

SUARASULTRA.COM | KENDARI – Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) resmi menggelar Siaga SAR Khusus Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru) sebagai langkah antisipatif menghadapi lonjakan mobilitas masyarakat selama masa libur panjang akhir tahun.

Kegiatan berskala nasional tersebut dibuka langsung oleh Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, dan diikuti oleh seluruh jajaran Basarnas serta potensi SAR dari berbagai instansi, Jumat (19/12/2025).

Pembukaan siaga dilaksanakan secara hybrid dan diikuti oleh 45 Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) di seluruh Indonesia melalui daring.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut para Pejabat Pimpinan Tinggi Madya dan Pratama Basarnas, serta tamu undangan dari unsur potensi SAR lintas sektor.
Operasi Siaga SAR Khusus Nataru ini akan berlangsung selama 19 hari, terhitung mulai 19 Desember 2025 hingga 5 Januari 2026.

Dalam sambutannya, Mohammad Syafii menegaskan bahwa Siaga SAR Khusus Nataru merupakan bentuk kesiapsiagaan nasional untuk mengantisipasi berbagai potensi ancaman keselamatan masyarakat akibat meningkatnya aktivitas perjalanan.

“Operasi ini bertujuan menjamin kesiapan personel dan sarana prasarana SAR, mempercepat waktu respons, memperkuat koordinasi lintas instansi, serta menekan angka korban jiwa melalui upaya pencegahan, mitigasi, dan respons cepat terhadap kondisi darurat,” ujar Syafii.

Berdasarkan hasil survei Kementerian Perhubungan bersama Badan Pusat Statistik (BPS), Kementerian Komunikasi dan Digital, serta akademisi, diperkirakan sebanyak 42,01 persen penduduk Indonesia atau sekitar 119,5 juta orang akan melakukan perjalanan selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026.

“Angka tersebut meningkat 2,71 persen dibandingkan tahun sebelumnya, sehingga potensi kepadatan, kemacetan, dan risiko kecelakaan transportasi diperkirakan semakin tinggi,” jelasnya.

Baca Juga:  Mencari Korban di Sungai Lasolo, Tim SAR Temukan Buaya Berjemur

Selain lonjakan mobilitas, Basarnas juga mewaspadai potensi kedaruratan di kawasan wisata, pelabuhan, bandara, dan jalur transportasi darat.

Risiko tersebut diperparah dengan prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebutkan puncak musim hujan terjadi pada Desember 2025 hingga Januari 2026.

Syafii mengungkapkan, sejumlah fenomena atmosfer aktif seperti Siklon Bakung serta Bibit Siklon 93S dan 95S berpotensi meningkatkan intensitas curah hujan dan memicu bencana hidrometeorologi.

“Ancaman banjir, banjir bandang, tanah longsor, badai tropis, angin puting beliung, hingga banjir rob di wilayah pesisir menjadi perhatian serius selama periode Nataru,” tegasnya.

Selain bencana hidrometeorologi, Basarnas juga tetap mengantisipasi potensi bencana geologi seperti gempa bumi, tsunami, dan erupsi gunung api, mengingat Indonesia berada di kawasan rawan bencana.

Untuk menghadapi berbagai potensi kedaruratan tersebut, Basarnas menggelar Operasi Siaga SAR Gabungan secara nasional yang dilaksanakan secara terpadu dan bersinergi dengan seluruh pemangku kepentingan.

“Kami berkomitmen untuk selalu siaga secara nasional dalam memberikan perlindungan dan keselamatan kepada masyarakat,” pungkas Syafii.

Sementara itu, di wilayah Sulawesi Tenggara, Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Basarnas Kendari menyiagakan 149 personel SAR, serta didukung oleh 544 personel potensi SAR yang telah dibina dan tersebar di seluruh kabupaten dan kota.

Kepala KPP Basarnas Kendari, Amiruddin A.S., mengatakan pihaknya juga telah menyiapkan sarana dan prasarana yang lengkap, baik untuk operasi laut, darat, maupun penanganan medis.

“Sarana air yang disiagakan meliputi 10 unit perahu karet, 2 unit jet ski, 6 unit Rigid Inflatable Boat (RIB), dan 3 unit kapal. Sementara sarana darat terdiri dari 9 unit rescue car, 1 unit ambulans, 3 unit ATV, 10 unit rescue trail, 6 unit truk personel, serta 1 unit rescue truck,” jelas Amiruddin.

Baca Juga:  Pemda Butur Resmi Canangkan Vaksinasi Anak Usia Sekolah Dasar

Seluruh personel juga didukung dengan peralatan medis, peralatan selam, serta perlengkapan keselamatan lainnya.

Adapun lokasi Siaga SAR Khusus Nataru di Sulawesi Tenggara difokuskan pada sejumlah titik rawan, antara lain Pelabuhan Nusantara Kendari, Pelabuhan Feri Kendari, Pelabuhan Panggulu Belo Wanci, Pelabuhan Wawonii, Pelabuhan Murhum Baubau, Pelabuhan Raha, serta lintasan penyeberangan Kolaka–Bajoe.

Selain itu, pengamanan juga dilakukan di Bandara Haluoleo, Bandara Betoambari, Bandara Matahora, Bandara Sangia Nibandera, serta kawasan wisata di Kendari, Kolaka, Baubau, Wakatobi, Konawe Utara, dan Muna, termasuk terminal angkutan darat.

Laporan : Redaksi

Make Image responsive
banner 120x600
  • Share
error: Content is protected !!