
Kabut Asap Selimuti Kendari, 304 Titik Panas Terdeteksi di Sultra
SUARASULTRA.COM | KENDARI – Kabut asap menyelimuti sejumlah wilayah Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), pada Jumat (9/10/2026) pagi. Kondisi ini memicu kewaspadaan masyarakat di tengah terdeteksinya ratusan titik panas di wilayah Sultra serta potensi meluasnya sebaran asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pantauan awak media, sekitar pukul 09.00 Wita, kabut asap terlihat menyelimuti kawasan perkotaan, mulai dari Kecamatan Baruga hingga Kendari Barat. Suasana kota tampak berkabut, sementara jarak pandang di sejumlah titik diperkirakan hanya berkisar satu kilometer.
Kondisi tersebut berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat, terutama pengguna jalan yang membutuhkan jarak pandang memadai. Selain itu, paparan partikel asap juga dapat memengaruhi kenyamanan dan kesehatan warga, khususnya kelompok yang rentan terhadap gangguan pernapasan.
Data yang dilansir Kendariinfo berdasarkan laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, hingga Rabu (7/10/2026), terdapat 304 titik panas yang terdeteksi di Sulawesi Tenggara.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 220 titik memiliki tingkat kepercayaan menengah, 50 titik berkategori rendah, dan 34 titik berkategori tinggi.
Kabupaten Konawe menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 66 titik. Berikutnya, Kabupaten Muna mencatat 51 titik dan Buton Utara sebanyak 47 titik.
Meski demikian, keberadaan titik panas atau hotspot yang terdeteksi melalui satelit tidak serta-merta menandakan adanya kebakaran yang telah terkonfirmasi di lapangan. Data tersebut menjadi indikator awal yang perlu ditindaklanjuti melalui pemantauan dan verifikasi oleh petugas terkait.
Sebaran Asap Dipengaruhi Kebakaran di Luar Sultra
Koordinator Bidang Observasi dan Informasi Stasiun Meteorologi Maritim Kendari, Faizal Habibie, menjelaskan bahwa kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara tidak seluruhnya bersumber dari kebakaran lahan di daerah setempat.
Berdasarkan pemantauan citra satelit Himawari-9 pada Kamis (8/10/2026), sebaran asap terdeteksi di sejumlah wilayah, di antaranya Kota Baubau, Kabupaten Buton, Buton Tengah, Buton Selatan, Buton Utara, Wakatobi, dan Muna.
Menurut Faizal, sebagian asap juga berasal dari wilayah lain di Indonesia, yakni Papua Selatan, Maluku, dan Kalimantan. Asap tersebut dapat terbawa menuju wilayah lain mengikuti pola dan arah pergerakan angin.
“Sebaran asap yang terjadi di Sultra bukan hanya disebabkan dari kebakaran lahan dari wilayah Sultra, tetapi juga dari luar wilayah Sultra, yakni dari Papua Selatan, Maluku, dan Kalimantan,” demikian penjelasan Faizal yang dilansir Kendariinfo.
BMKG juga memperkirakan potensi sebaran asap kategori sedang masih terjadi di sejumlah wilayah Sulawesi Tenggara pada periode 8–9 Oktober 2026.
Wilayah yang perlu mewaspadai kondisi tersebut meliputi Kota Kendari, Kabupaten Konawe, Konawe Selatan, Konawe Utara, Konawe Kepulauan, Bombana, Kolaka, Kolaka Timur, Kolaka Utara, Muna, Muna Barat, Kota Baubau, Buton, Buton Utara, Buton Selatan, Buton Tengah, dan Wakatobi.
Cuaca Kering Tingkatkan Risiko Kebakaran
Ancaman karhutla di Sulawesi Tenggara juga perlu dicermati dalam konteks kondisi cuaca nasional. Dalam prakiraan cuaca periode 9–15 Oktober 2026, BMKG menyebut sebagian besar wilayah Indonesia masih berpotensi mengalami kondisi kering.
Dinamika iklim global, termasuk fenomena El Niño berintensitas sangat kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif, turut menjadi faktor yang dapat memengaruhi pola curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan pemantauan pada 7 Oktober 2026, BMKG mencatat titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih terdeteksi di berbagai kawasan. Sebanyak 531 titik terpantau di wilayah Papua dan Maluku, 364 titik di Kalimantan, serta 340 titik di Sumatera.
Sementara itu, citra satelit Himawari menunjukkan adanya sebaran asap di sebagian wilayah Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Maluku, Maluku Utara, dan Papua.
Kondisi tersebut menjadi peringatan bahwa risiko karhutla masih perlu diantisipasi, terutama di daerah yang mengalami curah hujan rendah dan memiliki vegetasi kering yang mudah terbakar.
BMKG memperkirakan curah hujan kategori rendah, berkisar 0–50 milimeter per dasarian, masih mendominasi sebagian besar wilayah Indonesia pada dasarian kedua Oktober 2026. Sulawesi menjadi salah satu kawasan yang perlu mencermati perkembangan cuaca tersebut karena minimnya hujan dapat meningkatkan kerawanan kekeringan dan kebakaran vegetasi.
Meski demikian, peluang terjadinya hujan lokal tetap terbuka. Oleh sebab itu, perkembangan kondisi cuaca dan potensi karhutla perlu terus dipantau melalui hasil pengamatan serta informasi resmi dari instansi berwenang.
Warga Diminta Lindungi Diri dari Paparan Asap
Menyikapi kondisi kabut asap, masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan, terutama saat beraktivitas di luar ruangan pada pagi hari ketika jarak pandang dapat mengalami penurunan.
Warga disarankan menggunakan masker yang sesuai untuk mengurangi paparan partikel asap, mencukupi kebutuhan cairan, serta menutup pintu dan jendela ketika asap di luar rumah mulai pekat.
Anak-anak, ibu hamil, lanjut usia, dan masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan dianjurkan membatasi aktivitas di luar ruangan selama kualitas udara belum membaik. Apabila mengalami sesak napas atau keluhan kesehatan lainnya, masyarakat sebaiknya segera mencari pertolongan medis.
Pengguna transportasi darat, laut, dan udara juga diminta memperhatikan informasi terkini mengenai jarak pandang dan kondisi operasional. Bagi pengendara di jalan raya, kewaspadaan dapat ditingkatkan dengan mengurangi kecepatan, menjaga jarak aman, serta menyalakan lampu kendaraan sesuai kondisi.
Selain melindungi diri dari paparan asap, masyarakat juga memiliki peran penting dalam mencegah meluasnya karhutla. Warga diminta tidak membakar sampah sembarangan maupun membuka lahan dengan cara membakar, khususnya di kawasan yang rawan terbakar.
Jika menemukan indikasi kebakaran atau titik api, masyarakat diharapkan segera melaporkannya kepada petugas terkait agar dapat dilakukan pemeriksaan dan penanganan secepatnya.
Informasi mengenai perkembangan cuaca, potensi karhutla, dan sebaran asap juga perlu dipantau melalui kanal resmi BMKG serta instansi penanggulangan bencana.
Kabut asap yang menyelimuti Kota Kendari menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya melalui pemadaman api. Upaya pencegahan, pemantauan sumber asap, koordinasi lintas wilayah, serta perlindungan kesehatan masyarakat harus berjalan beriringan untuk meminimalkan dampak yang ditimbulkan.
Laporan: Kardi






















