
Ketum PAN Tegaskan Partai Setia pada Perjuangan, Bukan Individu
SUARASULTRA.COM | KENDARI – Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) menegaskan bahwa loyalitas partainya tidak ditujukan kepada figur atau individu, melainkan kepada cita-cita perjuangan, nilai-nilai kebangsaan, dan platform politik yang menjadi landasan PAN.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam pidato politik saat pelantikan Pengurus DPW dan DPD PAN se-Sulawesi Tenggara di Hotel Claro Kendari, Selasa malam (6/10/2026).
“Kita setia kepada cita-cita, bukan setia kepada orang. Setia kepada perjuangan, setia kepada nilai-nilai dan platform yang kita bangun,” tegasnya di hadapan ratusan kader dan tamu undangan.
Menurutnya, perjuangan PAN sejalan dengan cita-cita kemerdekaan Indonesia, yakni mewujudkan keadilan, kemakmuran, kesetaraan serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya membangun sistem ekonomi yang berlandaskan Pasal 33 dan 34 UUD 1945. Menurutnya, kekayaan alam Indonesia harus dikelola negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dan tidak hanya memberikan keuntungan kepada segelintir pihak.
Soroti Ketergantungan Impor Pangan
Dalam pidatonya, Ketua Umum PAN turut menyoroti persoalan ketergantungan Indonesia terhadap impor sejumlah komoditas pangan.
Ia menyebut Indonesia masih mengimpor sekitar 13 juta ton terigu, 6 juta ton kedelai, 6 juta ton gula dan 4 juta ton garam setiap tahun.
Menurutnya, ketergantungan tersebut menjadi tantangan serius terhadap kedaulatan pangan dan kesejahteraan masyarakat.
“Kalau kita tergantung pada impor, artinya rakyat, gubernur, bupati, kita semua berada di garis kemiskinan. Yang dapat manfaat itu luar negeri,” ujarnya.
Ia juga menyinggung peningkatan kesejahteraan petani serta kondisi nelayan yang dinilai masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah.
Menurutnya, penguatan sektor pertanian dan kelautan harus menjadi bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi nasional.
PAN dan Gerindra Disebut Koalisi Jangka Panjang
Dalam kesempatan tersebut, ia menegaskan hubungan politik PAN dengan Partai Gerindra merupakan koalisi yang dibangun untuk jangka panjang berdasarkan kesamaan visi dan tujuan.
Meski demikian, ia meminta seluruh kader PAN tidak memandang partai politik lain sebagai musuh.
“Kita koalisi dengan Gerindra itu koalisi panjang. Partai-partai itu teman kita, bukan musuh. Dalam bahasa agamanya, amar ma’ruf nahi mungkar, berbuat baik untuk negeri ini,” jelasnya.
Ia juga menyinggung sejumlah kebijakan pemerintah di bidang penegakan hukum dan pengelolaan sumber daya alam. Menurutnya, langkah penertiban kawasan hutan dan sektor pertambangan merupakan bagian dari upaya mengembalikan aset negara untuk kepentingan masyarakat.
Dorong Pembangunan dari Desa
Ketua Umum PAN juga memaparkan sejumlah program pembangunan yang menurutnya penting untuk memperkuat perekonomian masyarakat.
Di antaranya pembangunan kampung nelayan yang dilengkapi fasilitas kesehatan, balai lelang, bengkel, SPBN dan koperasi.
Pemerintah juga didorong memperluas pengembangan bioflok tematik serta koperasi di tingkat desa.
Menurutnya, pembangunan nasional tidak boleh hanya berpusat di Jakarta. Desa harus didorong menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru.
“Indonesia tidak mungkin maju kalau hanya ada satu mercusuar di Jakarta. Kita bisa maju kalau tiap desa menjadi pusat-pusat ekonomi,” tandasnya.
Minta Kader PAN Jaga Kekompakan
Di hadapan kader PAN Sulawesi Tenggara, ia mengingatkan pentingnya menjaga soliditas internal partai.
Menurutnya, konflik di internal hanya akan mengurangi kepercayaan masyarakat dan menghambat perjuangan partai dalam memperjuangkan kepentingan rakyat.
“Tidak ada partai yang berhasil membela rakyat kalau internalnya berantem. Publik muak,” tegasnya.
Ia juga menyampaikan bahwa kader atau mantan kader yang memiliki perbedaan pandangan tetap dapat kembali bergabung tanpa membawa persoalan masa lalu. Namun, mereka yang telah memilih bergabung dengan partai lain diminta tidak perlu diganggu.
Kader Diminta Dukung Gubernur Sultra
Khusus kepada kader PAN di Sulawesi Tenggara, ia memberikan arahan agar mendukung pemerintahan gubernur dan menyampaikan kritik maupun masukan melalui jalur internal secara baik.
“Gubernur itu tidak gampang. Benar saja salah, apalagi salah. Tolong didukung. Saya tidak mau dengar ada kritik di luar dari kader partai,” perintahnya.
Menutup pidatonya, ia menggunakan filosofi matahari yang menjadi simbol PAN sebagai gambaran keterbukaan partai.
Menurutnya, matahari memberikan cahaya dan kehidupan tanpa membeda-bedakan siapa yang menerimanya. Filosofi tersebut, kata dia, menjadi semangat PAN untuk terbuka bagi siapa pun yang ingin bergabung dan mengabdi kepada bangsa.
“PAN terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan mengabdi untuk Indonesia. Karpet biru untuk semua,” pungkasnya.
Laporan: Kardi






















