
Ivonne Inawade Desak Penyelidikan Mendalam Kasus Pembunuhan Bibinya: “Kami Butuh Keadilan, Bukan Asumsi!”
SUARASULTRA.COM | KENDARI – Kasus pembunuhan tragis Anty Inawade (59) di Jalan Supu Yusuf, Kelurahan Korumba, Kota Kendari, masih menyisakan banyak pertanyaan bagi keluarga korban.
Meski pelaku telah ditetapkan tersangka, keponakan korban yang juga artis FTV nasional, Ivonne Mariana Inawade, menyuarakan kekecewaannya terhadap proses penyidikan yang dilakukan Polresta Kendari.
Dalam keterangannya kepada media, Ivonne menilai penyelidikan aparat penegak hukum masih dangkal dan terkesan terburu-buru dalam menarik kesimpulan.
“Polisi terlalu mengandalkan pengakuan tersangka yang berubah-ubah. Padahal menurut pakar psikologi forensik, keterangan seperti itu rawan bias dan dapat terdistraksi oleh tekanan atau waktu,” ujar Ivonne.
Salah satu hal yang paling disorot Ivonne adalah tidak adanya pemeriksaan forensik terhadap barang bukti penting seperti ponsel milik korban dan tersangka. Menurutnya, komunikasi digital bisa menjadi kunci untuk mengungkap motif sesungguhnya serta potensi keterlibatan pihak lain.
“Apa benar Usman bertindak sendiri? Bagaimana dia tahu suami tante saya sedang tidak di rumah? Ada jeda waktu yang janggal antara keberangkatan suami korban dan waktu kejadian,” tegasnya.
Ivonne juga mempertanyakan mengapa penyidik tidak melakukan analisis psikologis terhadap pelaku. Ia menduga ada kecenderungan kelainan hasrat seksual terhadap perempuan lansia, yang menurutnya seharusnya ditelusuri lebih dalam.
“Kenapa tidak diselidiki kecenderungan seksual pelaku? Ini tidak lazim dan seharusnya jadi petunjuk penting,” katanya.
Ia juga membantah keras klaim tersangka yang menyebut korban kerap berpakaian transparan.
“Tante saya itu sosok tertutup. Tidak pernah berpakaian seperti yang dituduhkan. Tuduhan itu fitnah dan upaya membangun opini untuk membenarkan tindakan keji,” tegasnya.
Diketahui, Usman merupakan mantan pekerja suami korban. Ia disebut mengonsumsi narkoba sebelum mendatangi rumah korban dan melakukan pemerkosaan yang berujung pembunuhan karena takut aksinya terbongkar.
Namun, bagi Ivonne dan keluarga, kronologi tersebut tidak cukup kuat untuk dijadikan satu-satunya dasar pembuktian.
“Kami butuh penyelidikan menyeluruh dengan pendekatan scientific crime investigation dan forensik multidisipliner, bukan sekadar mengandalkan pengakuan pelaku yang tidak konsisten,” ujarnya.
Ivonne pun mendesak kepolisian untuk membuka kembali ruang penyelidikan yang lebih objektif dan melibatkan pakar-pakar independen.
“Kami keluarga korban butuh keadilan, bukan asumsi. Buka semua kemungkinan. Libatkan ahli forensik. Jangan tutupi kebenaran,” pungkas Ivonne.
Laporan: Sukardi Muhtar
















