Home / Ekonomi & Bisnis / Masuk Kerja di VDNI dan OSS Pakai “Mahar”, Kabag Humas Pemda: Ada Oknum Calo Mengatasnamakan Pemda
Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive

Masuk Kerja di VDNI dan OSS Pakai “Mahar”, Kabag Humas Pemda: Ada Oknum Calo Mengatasnamakan Pemda

Make Image responsive
Make Image responsive

Pimpinan PT VDNIP Mr. Tony Zhou saat peringatan Hari Buruh menyerahkan bingkisan kepada sejumlah karyawan

SUARASULTRA.COM | KONAWE – Diambil alihnya proses perekrutan Tenaga Kerja Lokal oleh Pemerintah Daerah awalnya memberikan angin segar kepada anak daerah. Pasalnya, penerimaan karyawan di perusahaan pemurnian bijih nikel Morosi tidak lagi berhubungan dengan calo.

Calon karyawan tidak lagi dibebankan biaya tambahan selain biaya Swab Mandiri dan Rapid tes sebagaimana dialami oleh sejumlah karyawan yang saat ini telah bekerja di PT VDNI dan PT OSS.

Namun, upaya dari Pemda Konawe untuk menghilangkan pungli dalam perekrutan TKL di Morosi tidak berjalan mulus. Dengan berjalannya waktu, praktek percaloan kembali terjadi. Pungli pun tak lagi dapat dihindari.

Kuat dugaan, ada oknum yang tidak bertanggungjawab yang memanfaatkan situasi tersebut. Tidak tanggung-tanggung, oknum tersebut berani menarik uang muka atau DP ke calon Tenaga Kerja Lokal dengan mengatasnamakan Pemda Konawe.

Praktek percaloan itu terbongkar setelah ada korban yang berani buka mulut.
Berdasarkan info yang dihimpun media ini, mahar yang dipatok ke calon TKL itu bervariasi, mulai dari Rp 3 juta hingga Rp 6 juta.

Modusnya, sebelum calon karyawan mengikuti tahapan tes, mereka harus memberikan uang muka atau DP kepada oknum tertentu yang mengaku memiliki pengaruh dalam perekrutan yang dilaksanakan oleh Pemkab Konawe. Angka yang dipatok sebesar Rp.1 juta sampai Rp. 2 juta.

“Awalnya saya ditawarkan Rp.6 juta, namun saya tawar karena kemampuan saya hanya Rp 4 juta, setelah itu saya DP Rp. 1 Juta,” ungkap salah satu korban yang tidak berkenan namanya disebutkan.

Kemudian lanjut korban, oknum itu kemudian menyuruh dirinya memenuhi persyaratan untuk mengikuti tes yaitu Foto Copy KTP dan Kartu Keluarga.

“Setelah saya dinyatakan lulus saya harus membayar sisanya,” tutur TKL yang kini bekerja di Divisi Control Room.

Senada dengan korban di atas, salah satu TKL yang kini bekerja di Divisi Dump Truck juga mengaku menyetor sejumlah uang baru bisa diterima di perusahaan.

TKL ini mengaku membayar sebesar Rp.6 juta untuk bisa lulus di Divisi Dump Truck. Dan sebelum mengikuti tes dirinya harus membayar DP sebesar RP 2 juta, dan sisanya dibayarkan setelah diterima menjadi pekerja di Divisi Dump Truck PT VDNI.

“Oknum itu mengaku dari Pemda dan menawarkan kepada saya, dan bukan hanya saya yang ditawarkan. Sebelumnya ada yang diurus dan dia lulus, jadi saya mau juga diuruskan supaya bisa bekerja,” ujar TKL yang juga tak mau disebutkan namanya.

Nasib baik dua TKL di atas tak seberuntung calon TKL di PT OSS atas nama Fatmawati dan Rostina. Keduanya mengaku telah membayar DP sebesar Rp. 1 juta kepada oknum dengan bukti kwitansi bermaterai.

Baik Fatmawati maupun Rostina sampai saat ini belum dapat panggilan untuk bekerja. Padahal, DP diserahkan kepada oknum calo itu sejak tanggal 10 Juni lalu.

“Sudah empat bulan mi saya tunggu belum ada panggilan. saat itu saya ditawari Rp.3,5 juta untuk lulus tes, dan saya sudah DP namun tidak ada kabar sampai sekarang. Dan kalau memang saya tidak bisa lulus, uang saya dikembalikan karena uang itu juga saya pinjam,” bebernya.

Sukri Nur, S.Ag, M.Si, Kabag Humas dan Protokol Setda Konawe

Menanggapi hal tersebut, Kepala Bagian Humas dan Protokoler Sekretariat Daerah Konawe, Sukri Nur mengatakan, perekrutan CTKL di PT VDNI maupun PT OSS itu gratis. Dalam artinya, tidak ada pembayaran.

Menurut Sukri sapaan akrabnya, biaya yang dikeluarkan oleh CTKL itu hanya biaya swab atau rapid dan itu menjadi salah satu syarat dari perusahaan setelah CTKL dinyatakan lolos berkas.

“Jadi CTKL tidak membayar sepeserpun ke Pemda, semuanya dilakukan dengan gratis,” tegasnya.

Dikatakan, tujuan utama perekrutan diambil alih oleh Pemda Konawe salah satunya adalah untuk memangkas pungli yang sebelumnya kerap terjadi. Dan kita juga inginkan pengangguran di Konawe dan Sultra ini berkurang, dan itu sudah terbukti,” katanya.

Sukri mengungkapkan, ada banyak calo-calo di luar sana yang mengatasnamakan diri dari Pemda. Mereka bahkan sudah berani menawarkan langsung jasa percaloannya di media sosial, seperti facebook.

“Di FB bukan hanya Calo, calon TKL juga mencari orang yang bisa membantu lewat FACEBOOK. Bahkan lengkap dengan nomor hapenya dia pasang. Inilah yang dimanfaatkan oleh oknum tak bertanggungjawab itu,” terangnya.

Lebih lanjut Sukri menjelaskan bahwa saat ini proses perekrutan CTKL PT VDNI dan OSS masih terus berjalan. Setiap pendaftar kemungkinan besar pasti akan masuk. Namun diharapkan untuk bersabar mengantri, karena banyak pelamar.

“Kalau namanya belum keluar pada pengumuman saat ini, biasanya akan keluar pada pengumuman selanjutnya. Makanya harap bersabar. Yang jelas proses penerimaan karyawan masih terus berjalan dan itu gratis,” pungkasnya.

Ia pun menghimbau kepada seluruh calon tenaga kerja untuk tidak memakai jasa calo. Karena kata dia, jika melalui calo pasti ada jasa yang keluar.

“Berkas diantar langsung ke Pemda, jangan stor berkas ke calo. Dan sekali lagi saya pertegas bahwa baik Pemda maupun pihak perusahaan tidak ada pungli dalam penerimaan karyawan, ” tegasnya.

Laporan: Sukardi Muhtar

Make Image responsive
Make Image responsiveMake Image responsive
Make Image responsive2021-10-12

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top
error: Content is protected !!