

Proyek Sumur Irigasi di Konawe Disorot, Belum Berfungsi hingga Diduga Alami Kerusakan
SUARASULTRA.COM | KONAWE – Proyek pembangunan sumur jaringan irigasi air tanah tersebar (JIAT) di Kabupaten Konawe menuai sorotan masyarakat.
Program yang bersumber dari APBN melalui Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari itu dinilai belum memberikan manfaat bagi petani, khususnya di Kecamatan Abuki dan Kecamatan Tongauna.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, proyek tersebut dikerjakan oleh PT Brantas Abipraya (Persero) dengan konsultan supervisi PT Agrinas Jaladri Nusantara (Persero). Pekerjaan ini tercatat dalam kontrak Nomor HK.02.01/BWS17.07.01/5998/2025.
Salah seorang warga Desa Walay, Irwan, mengungkapkan bahwa sumur JIAT yang telah dibangun hingga kini belum dapat dimanfaatkan oleh petani karena belum berfungsi optimal.
“Belum selesai, karena belum ada airnya. Kemarin dikerja saat musim tanam, sekarang kita sudah panen, tapi belum juga selesai,” ujarnya, Minggu (3/5/2026).
Ia berharap proyek yang menggunakan anggaran negara tersebut dapat segera dirampungkan dan benar-benar memberi manfaat bagi petani setempat.
“Kami harap sumur ini bisa segera digunakan, karena ini dari uang rakyat juga,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua BPD Desa Walay, Febri Nurhuda, S.Pd, turut menyoroti kinerja BWS Sulawesi IV Kendari bersama pihak kontraktor. Ia menilai pelaksanaan proyek tidak memberdayakan masyarakat lokal sebagaimana yang diharapkan.
“Ini proyek kementerian yang masuk ke desa, seharusnya masyarakat setempat dilibatkan atau diberdayakan,” tegasnya.
Menurut Febri, pada tahap awal perencanaan telah ada kesepakatan antara pemerintah desa dan pihak kontraktor untuk melibatkan tenaga kerja lokal. Namun, hal tersebut tidak terealisasi.
“Awalnya sudah disepakati warga lokal yang kerja. Tapi kontraktor memberikan upah yang sangat rendah, sehingga tidak ada yang mau. Padahal warga sudah siap bekerja,” ungkapnya.
Selain itu, dari hasil penelusuran di lokasi proyek, ditemukan sejumlah struktur bangunan yang diduga mengalami kegagalan konstruksi dan mulai menunjukkan tanda-tanda kerusakan.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak BWS Sulawesi IV Kendari maupun kontraktor pelaksana belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi proyek tersebut.
Laporan: Ardi




















