Home / Lipsus / Advetorial / Pemda Konawe Gelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana
Make Image responsive

Pemda Konawe Gelar Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana

Make Image responsive

Sekretaris Daerah Kabupaten Konawe Dr. Ferdinand, S.P., M.H., saat membuka Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana, Kamis (23/1/2020).

SUARASULTRA.COM, KONAWE – Pemerintah Daerah Kabupaten Konawe menggelar rapat koordinasi kesiapsiagaan dalam rangka menghadapi bencana alam tahun 2020, Kamis (23/1/) di salah satu hotel di Kota Unaaha.

Kegiatan yang mengangkat tema “Kita Jaga Alam, Alam Jaga Kita” ini dibuka langsung oleh Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Konawe Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) Ferdinand Sapan, selaku Ex- Officio Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Konawe.

Diketahui, rapat koordinasi yang melibatkan TNI – POLRI, BMKG serta instansi terkait lainnya merupakan bentuk nyata upaya pemerintah daerah Kabupaten Konawe guna mengurangi risiko bencana.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Konawe, Ameruddin mengatakan Tim BPBD Konawe sejak Desember 2019 sudah mulai melakukan persiapan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya bencana alam, baik itu banjir maupun tanah longsor.

“Mulai dari personil kami sudah siap. Kemudian pada Desember 2019 lalu kami menyebar informasi kepada masyarakat akan bencana alam melalui Camat sampai turun ke kelurahan maupun desa,” kata mantan Kabag Humas Setda Konawe ini.

Dari Kiri ke Kanan : Kepala Pelaksana BPBD Konawe Ameruddin, S.Sos, M.Si, Kasat Sabhara Polres Konawe AKP Tassakka, Sekda Konawe Dr. Fetdinad Sapan, S.P., M.H., Perwira Penghubung Kodim 1417 Kendari Mayor Inf. Petrus Hehakaya, Kepala BMKG Cabang Kendari Ramlan.

Kemudian secara internal lanjut Ameruddin, pihaknya juga sudah mulai menata administrasi. Meski banyak kekurangan personil Tim Reaksi Cepat (TRC) maupun logistik, ia mengaku tetap selalu siapsiaga.

Ameruddin menjelaskan bahwa hal yang paling krusial sebenarnya dalam menangani bencana alam itu adalah kekompakan para Satuan Kerja Perangkat Dearah (SKPD) terkait.

“Beberapa elemen termasuk organisasi kemasyarakatan saya kira sudah maksimal baik itu TNI – Polri, Dinas Kominfo, Sosial, Tagana, JPKP itu kami terus apresiasi peran mereka di 2019 kemarin,”jelasnya.

Untuk perlengkapan mengahadapi bencana banjir, ia menyebut bahwa BPBD memiliki dua unit perahu Katamaran, dua unit perahu Karet.

“Yang sangat minim itu baju pelampung yakni hanya tersisa tiga buah yang layak pakai, ini harus mendapat perhatian,” ungkapnya.

Suasana Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana.

Untuk mengantisipasi itu, Kalaksa BPBD Konawe ini mengaku tidak tibggal diam. Dirinya menyebut telah membangun koordinasi dengan daerah lain terkait masalah penanganan bencana alam.

“Karena sifatnya bencana, bila ada bencana di daerah A kemudian di daerah B tidak ada bencana, maka ini yang akan membantu, utamanya perlengkapan bencana alam bisa dipinjamkan,” terangnya.

Menurut Ameruddin, di tahun 2020 ini, bencana alam di Konawe yang potensi itu banjir. Untuk mengantisipasi, banyak langkah – langkah penanggulangan yang mesti dilakukan. Termasuk bagaimana mengantisipasi penyebabnya.

“Seperti yang disarankan oleh TNI – Polri pada rapat tadi, kami harus menghadirkan teman-teman dari Kehutanan dan Pertambangan untuk memberikan informasi bagaimana tata kelola hutan yang sebenarnya yang terjadi di Konawe,” katanya.

Meski sampai saat ini belum ada kajian yang resmi yang menyebut bahwa penyebab banjir dari dua sektor tersebut. Tetapi kata dia tidak ada salahnya jika mengundang kedua instansi tersebut.

Kepala Kalaksa BPBD Konawe Ameruddin, S.Sos M.Si (kiri) saat memaparkan kesiapsiagaan BPBD dalam menghadapi bencana

“Ini masih bersifat praduga. Ini tidak bisa kita simpulkan bahwa penyebab ini seperti ini. Seperti tahun lalu itu kan ada kunjungan utusan dari Kepolisian Republik Indonesia menanyakan ke saya penyebab banjir seperti apa, saya jawab ini karena faktor curah hujan yang tinggi,”bebernya.

“Kalau kita langsung menyebut ini disebabkan pertambangan dan kehutanan takutnya kita salah. Ini kita belum pastikan karena belum ada kajian mengeluarkan ini,”lanjutnya.

Ame kembali menegaskan bahwa pada intinya BPBD Konawe sudah siap menghadapi bencana dalam bentuk apa pun itu. Karena menurutnya, ini merupakan tanggung jawab BPBD.

“Tidak ada kata – kata tidak siap dalam kondisi apapun,” tegasnya.

Kemudian untuk mengantisipasi kekurangan -kekurangan yang ada, Ame menyebut selalu berkomunikasi dengan pimpinan daerah dalam hal ini Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa dan Wakil Bupati Gusli Topan Sabara, S.T, M.M.

“Kami juga tentu berkomunikasi dengan DPRD Konawe, termasuk juga daerah lain yang memungkinkan bisa membantu,” tutupnya.

Sekda Konawe Dr. Ferdinand Sapan, S.P., M.H., saat membuka Rapat Koordinasi bersama TNI- POLRI dan BMKG Cabang Kendari

Sementara itu di tempat yang sama, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Cabang Kendari, Ramlan mengatakan bahwa untuk saat ini secara umum curah hujan di Konawe masih dikategorikan normal.

“Normal itu artinya tiap bulan pada bulan yang sama itu kondisinya masih samalah dengan bulan-bulan yang lalu atau tahun-tahun yang lalu pada bulan yang sama,” katanya.

Namun yang perlu diantisipasi masih kata dia, kalau hujan itu dalam seharian jatuh sekaligus, kemudian dua hari sampai lima hari tidak ada hujan.

“Yang satu hari itu kita antispasi karena berpotensi menyebabkan bencana, baik itu bencana banjir, longsor dan banjir bandang. Nah itu yang perlu diantisipasi,” ujarnya.

Untuk itu lanjut Ramlan, BMKG Kendari selalu menyampaiakan informasi cuaca kepada pemerintah daerah setiap bulan. Baik setiap sepuluh hari, kemudian yang satu hari dan ada juga yang jangka pendek yakni tiga jam kedepan. Apakah tiga jam kedepan itu curah hujannya tinggi atau sedang.

Peserta Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana.

“Nah itu di wilayah – wilayah selalu kami sebutkan karena setiap hari itu berbeda beda lokasinya,” kata Ramlan.

BMKG selalu berkoordinasi dengan pemerintah daerah dengan kondisi cuaca yang terjadi, terutama BPDB di masing- masing daerah dikoordinasikan.

“Tugas BMKG itu sebelum terjadinya bencana. Tetapi kalau bencana sudah terjadi maka tinggal mengevakuasi,” ujarnya.

Memurut Ramlan, curah hujan akan selalu terjadi dan prediksi BMKG mulai bulan ini hingga April itu hujan. Kemudian pada bulan Mei itu puncaknya.

“Tetapi tidak setiap hari dalam sebulan itu. Namum secara akumulasi dalam satu bulan paling tinggi itu bulan Mei. Maka dari itu sebelum terjadi bencana kita banyak-banyak berbenah,”kata
Ramlan, Kepala BMKG Kendari saat mengahadiri Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan Menghadapi Bencana Dalam Upaya Pengurangan Risiko Bencana.

Laporan: Sukardi Muhtar

About redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Scroll To Top