GREAT Institute: Visi “Jalan Raya Pasifik” Prabowo Jadi Terobosan Geopolitik Maritim Indonesia

  • Share

Make Image responsive

GREAT Institute: Visi “Jalan Raya Pasifik” Prabowo Jadi Terobosan Geopolitik Maritim Indonesia

JAKARTA – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menyebut Samudra Pasifik bukan sebagai pemisah, melainkan “jalan raya ekonomi” yang menghubungkan Indonesia dan Rusia dinilai sebagai terobosan strategis dalam doktrin geopolitik maritim Indonesia.

Pandangan tersebut disampaikan Direktur Geopolitik GREAT Institute, Dr. Teguh Santosa, saat menanggapi pidato Presiden Prabowo dalam Eastern Economic Forum (EEF) ke-11 di Far Eastern Federal University (FEFU), Vladivostok, Federasi Rusia, Kamis (3/9/2026).

Menurut Teguh, metafora “jalan raya ekonomi” yang disampaikan Presiden Prabowo mampu mendobrak cara pandang lama yang menempatkan kawasan Timur Jauh Rusia (Russian Far East) sebagai wilayah terpencil dan sulit dijangkau dalam rantai pasok Indonesia.

“Pandangan Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia di Vladivostok menunjukkan lompatan cara pandang baru yang berani dan realistis dalam memandang geopolitik kawasan Pasifik,” ujar Teguh dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (4/9/2026).

EEF ke-11 yang berlangsung pada 1–4 September 2026 tersebut dihadiri Presiden Prabowo sebagai tamu kehormatan utama (guest of honour) atas undangan langsung Presiden Federasi Rusia Vladimir Putin.

Kehadiran Prabowo sebagai pembicara utama setelah Presiden Putin, kata Teguh, menunjukkan tingginya pengakuan internasional terhadap posisi strategis Indonesia di tengah dinamika politik dan ekonomi global.

Teguh secara khusus menyoroti pernyataan Presiden Prabowo dalam forum tersebut.

“Samudra Pasifik tidak memisahkan kita. Samudra Pasifik menghubungkan kita. Ia bukanlah tembok di antara kita. Ia harus menjadi jalan raya antara dua perekonomian kita,” kata Prabowo sebagaimana dikutip Teguh.

Menurut Teguh, pernyataan tersebut memiliki arti strategis karena Indonesia memiliki posisi geografis yang berada di persilangan Samudra Hindia dan Samudra Pasifik.

Baca Juga:  Satu Selongsong Peluru Diserahkan ke Ombudsman RI Perwakilan Sultra

Posisi tersebut, lanjutnya, dapat dioptimalkan untuk membuka akses maritim yang lebih luas menuju kawasan utara Pasifik, termasuk Timur Jauh Rusia.

Upaya membangun jembatan kemitraan yang lebih kuat dengan Timur Jauh Rusia dan Uni Ekonomi Eurasia (Eurasian Economic Union/EAEU) juga dinilai menjadi bagian penting dari strategi diversifikasi pasar Indonesia di tengah meningkatnya fragmentasi geoekonomi global.

“Selama ini interaksi perdagangan kita dengan Rusia lebih dominan melalui rute barat yang panjang. Padahal, gerbang Vladivostok membuka koridor langsung melalui Pasifik yang jauh lebih efisien bagi ekspor komoditas maupun produk manufaktur nasional,” papar Teguh.

Selain aspek ekonomi, Teguh menilai refleksi Prabowo mengenai kesamaan karakter geografis Indonesia dan Rusia juga memiliki makna diplomatik.

Kedua negara, menurutnya, sama-sama memiliki wilayah yang sangat luas serta menghadapi tantangan dalam menjangkau dan membangun kawasan perbatasan maupun wilayah terluar.

“Karakteristik Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar dan Rusia sebagai negara terluas di dunia menjadi modal pemahaman bersama dalam merancang pemerataan pembangunan hingga ke wilayah terluar,” ujarnya.

Teguh melihat forum EEF juga membuka ruang untuk mempertemukan agenda pembangunan Timur Jauh Rusia yang didorong Presiden Putin dengan kepentingan strategis Indonesia, terutama dalam bidang ketahanan energi, pangan, dan konektivitas.

Ia juga menyoroti pernyataan Presiden Putin yang menyebut kawasan Asia-Pasifik sebagai salah satu pusat pertumbuhan utama dunia. Menurut Teguh, kondisi tersebut semakin memperkuat relevansi Indonesia untuk terlibat aktif dalam berbagai forum ekonomi dan geopolitik di kawasan.

Diplomasi Prabowo di Vladivostok, lanjut Teguh, sekaligus menunjukkan konsistensi Indonesia dalam menjalankan politik luar negeri bebas aktif dan tidak terikat pada polarisasi blok kekuatan dunia.

“Kepemimpinan diplomasi Presiden Prabowo menunjukkan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak tanpa harus terikat dalam polarisasi blok politik mana pun,” tegas pakar geopolitik tersebut.

Baca Juga:  KPU Konawe Tetapkan Nomor Urut Paslon: Rusdianto - Fachry Dapat Angka Hoki

Karena itu, Teguh mendorong agar visi “jalan raya Pasifik” tidak berhenti sebagai gagasan diplomatik, tetapi segera diterjemahkan ke dalam kerja sama konkret, termasuk penguatan konektivitas maritim dan pembukaan rute penerbangan langsung antara kota-kota di Indonesia dan Vladivostok.

Menurutnya, penguatan armada pelayaran, jalur logistik langsung, serta konektivitas udara menjadi faktor penting agar gagasan yang disampaikan Presiden di forum internasional tersebut dapat memberikan manfaat nyata bagi dunia usaha dan perekonomian nasional.

Sejalan dengan tema EEF ke-11, “The Far East: Development for the Benefit of the People”, Teguh berharap kerja sama Indonesia-Rusia dapat diperluas ke sektor investasi, hilirisasi industri, ketahanan pangan, riset dan teknologi, serta pendidikan tinggi.

“GREAT Institute menyambut hangat inisiatif Presiden Prabowo di Vladivostok dan meyakini bahwa keterhubungan Pasifik ini akan menjadi tonggak baru bagi kemandirian ekonomi serta kemajuan maritim Indonesia di pentas global,” pungkas Dr. Teguh Santosa. []

Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive
Make Image responsive
banner 120x600
  • Share