
Pasien Hamil Diminta ke RS Konawe, Keluarga Eka Wati Soroti Penanganan Puskesmas Puriala
SUARASULTRA.COM | KONAWE – Keluarga Eka Wati Putri Adirman mempertanyakan penanganan yang dilakukan Puskesmas Puriala terhadap kondisi Eka yang mengalami tanda-tanda persalinan.
Peristiwa tersebut terjadi di Kelurahan Watundehoa, Kecamatan Puriala, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara.
Ibu Eka, Asnini, menuturkan kejadian bermula pada Selasa malam ketika keluar cairan dari tubuh putrinya. Kondisi tersebut kemudian disusul rasa sakit pada bagian perut.
Pada Rabu (19/8/2026) sekitar pukul 07.00 WITA, Asnini mencari seorang bidan bernama Pero untuk menyampaikan kondisi Eka. Berdasarkan informasi tersebut, bidan meminta Eka dibawa ke Puskesmas Puriala untuk menjalani pemeriksaan.
Asnini kemudian menjemput putrinya di rumah dan membawanya ke Puskesmas. Setelah dilakukan pemeriksaan, pihak bidan menyampaikan bahwa kondisi Eka masih berada pada pembukaan satu dan posisi kandungan dinilai baik.
“Kemudian saya bilang, saya pulang mi dulu karena masih lama ji juga,” ujar Asnini.
Sekitar pukul 11.00 WITA, Asnini mengaku kembali mendapat telepon dari pihak bidan dan diminta datang ke Puskesmas. Permintaan tersebut kemudian dipenuhi dengan mendatangi fasilitas kesehatan tersebut.
Setibanya di Puskesmas, keluarga mendapat penjelasan bahwa pihak tenaga kesehatan telah melakukan konsultasi dengan dokter. Berdasarkan hasil konsultasi tersebut, Eka disarankan untuk dirujuk ke RS Konawe karena dinilai tidak memenuhi prosedur untuk mendapatkan penanganan persalinan di Puskesmas.
Asnini mengungkapkan, pihak Puskesmas juga menyampaikan bahwa Eka baru satu kali mengikuti kegiatan posyandu. Selain itu, keluarga mendapat informasi bahwa bayi yang dikandung Eka memiliki ukuran yang cukup besar.
Menurut Asnini, pada 13 Agustus 2026, Eka sebelumnya telah diarahkan untuk menjalani pemeriksaan USG di Puskesmas. Namun, pemeriksaan tersebut tidak terlaksana karena dokter yang dituju disebut sedang sakit.
Kondisi tersebut kemudian menjadi pertanyaan bagi pihak keluarga. Asnini mempertanyakan keputusan untuk merujuk Eka ke rumah sakit, sementara dokter yang disebut memberikan rekomendasi belum melakukan pemeriksaan secara langsung terhadap Eka maupun kondisi bayi dalam kandungan.
“Itu dokter kan belum lihat anak saya, jangankan mau periksa, lihat saja belum. Waktu posyandu, kami disuruh pergi USG di Unaaha. Saya bawa, kami tanya berapa berat badannya, dokter bilang 3,6 kilogram. Dokter yang memeriksa juga menyampaikan posisinya bagus. Kenapa dokter ini langsung bilang dialihkan ke rumah sakit sementara anak saya belum dilihat kondisinya,” ujar Asnini.
Setelah mendapatkan penjelasan tersebut, Asnini memilih membawa putrinya pulang. Pihak keluarga mengaku belum memperoleh penjelasan yang dianggap memadai terkait prosedur penanganan dan rujukan yang diterapkan terhadap Eka.
Asnini juga menyebut keluarga tidak menerima surat rujukan dari Puskesmas Puriala. Menurut keterangan keluarga, mereka hanya diminta langsung membawa Eka menuju unit gawat darurat di Unaaha.
“Seandainya ada rujukan dari sana, kami hanya disuruh langsung ke emergency di Unaaha,” katanya.
Keluarga Eka berharap pihak terkait dapat memberikan penjelasan secara terbuka mengenai prosedur pemeriksaan, penanganan, serta mekanisme rujukan yang diterapkan terhadap pasien dengan tanda-tanda persalinan.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Puskesmas Puriala maupun instansi terkait.
Laporan: Kardi






















